Kamu datang selalu disaat yang tidak tepat, sayang. 1+1 hampir menjadi 2. Sempurna! Tapi rusak karena hasutan-hasutan manis nan menyakitkan. Loh, air mata ini jatuh tanpa siksaan sedikit pun, terjatuh karena bahagia, tertahan karena kesedihan. Saya yang sakit, kamu yang merasakan. Saya yang senang, kamu tidak ikut merasakan. Senang, sedih mu, aku yang menceritakan.
Hilang, berjanji tak akan ditemukan. tak dicari pun ya sudah, saya hidup kok. Kemudian, berjalan lah masing-masing, ke barat ke timur peduli apa? sama-sama ke utara pun, biarkan.
Diam-diam mengikuti, akhirnya gaduh juga muncul mata dan mata. Debu hilang, semua tertawa dan bercerita. Akhirnya bergandeng tangan menuju selatan. Baik semuanya, tidak lecet sedikitpun. Seperti baru, masih segar. Lupa, pernah mendengar air mata.
Hilang. lagi? saya pikir pintu ini terkunci. Memang! heran, kamu bisa duduk tanpa ucap salam. Katanya saya tuli, padahal kamu yang buta. Pikir ini wc umum? itupun bayar. kamu bayar? makan saja pinjam tangan ibu. Alasan butuh saya. Mau apa minta lagi? Santai, santai, tapi lain maksud.
Terlalu a i u dan e o. Bilang saja 1, nanti aku berikan 3.
Curi lagi? lawan-mu licik. Belum sampai setengah sudah teler. Kamu? hampir 100 masih bugar.
kamu menang. busuk!